INFO & TIPS bagi pengunjung KumKum

Informasi 13 Comments »

Bagi para calon pengunjung KumKum, di bawah ini adalah info & tips yang PERLU DIBACA sebelum berkunjung ke acara KumKum.

  • Acara KumKum GRATIS, alias tidak dipungut bayaran
  • Pengunjung diminta untuk membawa SAKE (sampah kering) & atau BABE (barang bekas) dari rumah/ kantor/ sekolah. Jenis SAKE & BABE bisa dilihat di http://kumkum.dagdigdug.com/category/tips-sake/
  • Jika punya buku-buku bagus yang sudah tidak dibaca terutama buku anak-anak, silakan dibawa untuk disumbangkan ke 1001buku.or.id
  • Bagi Ibu yang mempunyai bayi, KumKum menyediakan ruang khusus untuk menyusui

Apa yang perlu DIBAWA untuk kurangi sampah di KumKum?

  • Bawa BOTOL MINUM/ TUMBLER, tersedia air galon untuk isi ulang. GRATIS!
  • Bila perlu bawa KOTAK MAKAN, untuk bawa makanan pulang, karena stand makanan di KumKum tidak menyediakan kantong kresek/styrofoam.
  • Bawa TAS YANG BESAR/ TAS LIPAT, jika akan membeli berbagai produk di bazar KumKum, karena stand tidak menyediakan kantong kresek.

NAIK APA ke Museum Bank Mandiri untuk kurangi macet dan polusi?

  • Gunakan sepeda, angkutan umum atau naik 1 mobil beramai-ramai.
  • Fasilitas parkir sepeda akan disediakan oleh Komunitas Bike 2 Work, tepat di halaman Museum Bank Mandiri.
  • Museum Bank Mandiri mudah dijangkau dengan menggunakan bis TransJakarta dan KRL Jabodetabek.
  • Untuk KRL Jabodetabek, sila cek jadwal lengkapnya di www.krlmania.com/jadwal
  • Bagi yang membawa kendaraan, parkirkan di tempat parkir yang ada di sepanjang koridor bis TransJakarta dan sambung dengan bis tersebut hingga Museum Bank Mandiri.
  • Sila cek peta koridor bis TransJakarta di www.suaratransjakarta.org
  • Untuk naik 1 mobil beramai-ramai, sila memberi/mencari tebengan melalui www.nebeng.com (klik banner KumKum di bagian atas)
  • Bagi yang akan membawa kendaraan bermotor, perlu diperhatikan bahwa RUANG PARKIR TERBATAS!

Kumpul-kumpul Komunitas: Bertaut karena Niat Baik

liputan KumKum 2 Comments »

Oleh: Edi Santoso & Purwanti pada Majalah Tarbawi Edisi 20 Mei 2010

Bertumbuhnya komunitas mengajarkan satu pelajaran, bahwa begitu banyak ruang untuk berbuat kebajikan. Dalam bentuk apa pun: penyaluran hobi, gerakan penyadaran, atau pun aktivitas pembelajaran.

Nina Damly (60) menyengajakan diri datang ke kompleks Kota Tua, Jakarta, Sabtu (17/4). Bersama ratusan pengunjung lainnya, pensiunan ini mengaku antusias melihat jejak kebajikan anak-anak muda yang tergabung dalam berbagai komunitas. “Saya salut dengan anak muda sekarang yang mulai sadar memelihara lingkungan,” ujar warga Pondok Bambu, Jakarta ini.

Begitulah, dua hari, Sabtu (17/4) dan Minggu (18/4), banyak warga, terutama orang-orang dari kawasan Jabotabek, yang tiba-tiba menyambangi Museum Bank Mandiri di Kompleks Kota Tua, Jakarta.

Tak ada penanda yang jelas bahwa sedang berlangsung sebuah acara. Tapi lalu lalang orang, keluar masuk gedung, nyaris tak berhenti.

Tak ada panitia berseragam. Hanya beberapa orang yang menunggu di depan pintu masuk di belakang meja tanpa taplak, mempersilakan pengunjung untuk mengisi buku tamu - yang lebih kelihatan sebagai beberapa lembar kertas bekas.

“Apa ini acara ‘KumKum’ Mas?” tanya salah seorang pengunjung. memang, segala hiruk pikuk di dalam gedung tua itu bertajuk ‘KumKum’.

“KumKum di sini bukanlah nama tokoh kartun Jepang yang jika tersenyum lebar, mulutnya pun melebar hingga ke pipinya,” ujar Shanty Syahril, humas kegiatan ini, bercanda. Tetapi maksudnya, ‘Kumpul yuk Kumpul…’ Karena kita mengajak berbagai komunitas dan juga warga masyarakat untuk berkumpul di sini.

“Ini acara pertama kita bisa mengumpulkan sekian banyak komunitas dalam sebuah acara,” jelas Shanty. Setidaknya ada 52 komunitas yang turut meramaikan acara ini, mulai dari komunitas hobi, lingkungan, hingga komunitas pembelajaran.

“Di sini ada komunitas blogger, literasi, hobi, astronomi, pencari dana, peduli anak & peduli lingkungan,”tambah pegiat Komunitas Peta Hijau ini.

Jadilah acara ini semacam ajang bagi komunitas untuk memperkenalkan dirinya pada masyarakat. Karena, di antara sekian banyaknya komunitas yang tumbuh berserak, tak semua memiliki ruang publikasi yang memadai. Jadilah mereka orang-orang yang beraktivitas dalam sunyi.

“Padahal publikasi itu perlu. Komunitas akan semakin eksis ketika mendapatkan apresiasi masyarakat. Karena itu pula lah kami mencoba mempertemukan komunitas dengan media massa dalam acara ini,”ujar Bayu Wardhana, panitia lainnya menambahkan.

Cara komunikasi komunitas-komunitas dalam ‘KumKum’ pun unik. Sebagiannya bernilai edukasi, seperti yang dilakukan oleh Komunitas langitselatan. Komunitas pecinta dunia astronomi ini menggelar papan permainan ular tangga raksasa yang bergambar tata surya.

Para pengunjung, terutama anak-anak, dipersilakan untuk bermain di dalamnya.”Ini untuk mengenalkan anak-anak seputar tata surya dengan cara yang menyenangkan,” tandas salah seorang pegiat komunitas ini.

Komunitas Pecinta Kertas lebih memperkenalkan aktivitasnya melalui sebuah workshop. Kertas bagi komunitas ini lebih dari sekedar media menulis dan menggambar, tetapi merupakan media luhur yang membentuk peradaban dari masa ke masa.

Untuk menghargainya, gunakanlah kertas sebaik-baiknya. Karena kertas bisa dipakai kembali jika memungkinkan (reuse), dibatasi penggunaannya, sehingga mengurangi jumlah pemakaian (reduce), dan bisa diolah kembali dalam wujud yang berbeda (recycle).

Sementara itu, Masyarakat Bebas Bising (MBB) - sebuah komunitas yang konsen pada polusi suara, menyapa pengunjung dengan sebuah warning: “Waspadalah! Telinga Anda mengalami penurunan fungsi secara signifikan dari hari demi hari.” Mereka pun menyediakan seperangkat alat untuk mengets, seberapa peka telinga kita. Komunitas ini mencoba meyakinkan bahwa berbagai aktivitas masyarakat modern, sadar atau tidak, telah mengurangi kepekaan telinga kita.

Semangat kepedulian

Mengunjungi KumKum, layaknya melihat kebajikan yang berserak. Berbagai komunitas itu, dengan beragam keunikannya, mencoba mengisi celah-celah kebajikan yang memang dibutuhkan masyarakat.

“Di sini, diajarkan bagaimana mengurusi sampah, sehingga sampah dibeda-bedain. Kertas koran itu jug abisa dibuat untuk sesuatu yang berharga. Saya lihat ada juga komunitas tentang bagaimana menghindari situs-situs porno. Saya pikir mereka saling memberi sesuatu kepada masyarakat umum yang belum diketahui banyak orang. Ini adalah pengetahuan baru yang sangat berharga,” komentar Nani.

“Saya sangat salut dengan aktivitas komunitas di sini. Saya pikir dengan kegiatan ini akan membuka mata banyak orang akan keberadaan komunitas di sini. Mereka berkumpul, bekerja sama dan saling memotivasi untuk tujuan yang lebih baik pastinya,” tandas Doddy Kurnia, pengunjung lainnya.

Lihatlah bagaimana mereka membangun kesadaran pada hal-hal yang mungkin kita sering abaikan. Seperti yang dilakukan Komunitas Pecinta Buah Langka. Pada meja stand-nya, dijajar berbagai buah yang mulai jarang kita lihat, apalagi oleh remaja atau anak-anak.

“Saya saja nggak begitu tahu. Yang saya tahu ada menteng, jambu, mete, gohok. Banyak yang tanya sama saya, bahkan anak-anak saya belum pernah lihat buah itu. Saya juga heran kenapa tidak ada lagi buah-buahan itu. Orang sekarang beli apel terus. Buah-buahan impor terus yang dicari, tapi hasil panen lokal dilupakan,” kata Nani.

Panitia sendiri nampaknya ingin menjadikan adcara ini sebagai manifestasi berbagi slogan kepedulian yang digelorakan berbagai komunitas tersebut. Semangat ‘go green’ misalnya, terasa kuat sejak kita memasuki tempat berlangsungnya acara.

Berbagai tempat sampah-untuk sampah kering dan basah, tersedia di berbagai sudut ruangan. Beragam keterangan yang memandu pengunjung, seperti petunjuk lokasi ruang, toilet atau mushola, semuanya menggunakan kertas bekas. “Kita harus memberikan contoh nyata pada pengunjung bagaimana me-reuse kertas bekas,” jelas Shanty.

Panitia menyediakan air minum gratis, tapi jangan berharap ada gelas-gelas plastik. Begitu pun kala kita hendak membeli makanan di lokasi itu. Tak ada plastik atau kertas untuk membungkus makanan. Semua harus makan di tempat. Bahkan, di atas meja makan ada semacam petunjuk, bagaimana kita menikmati santapan makanan atau minum tanoa menambah beban bagi lingkungan. Di antaranya,”Jangan menggunakan sedotan plastik ketika meminum jus!”

“Jadi tidak hanya jargonnya saja yang green, tapi memang benar-benar dilaksanakan. Bagaimana pemilahan sampahnya, makanya di sini dipisah antara sampah yang basah & kering. Supaya nggak macet, kita rekomendasikan naik angkutan umum. Kalau bingung naik busway, ada komunitas ‘Suara Transjakarta’, mau naik KRL, ada komunitas ‘KRL Mania’, mau naik sepeda ada Bike to Work. Kalau mau naik sepeda, kita sediakan parkirannya,” papar Shanty.

Ruang pameran pun nampak senada. Berbagai barang yang dijual membawa semangat kepedulian. Misalnya, ada penjual popok bayi yang bisa dipakai berkali-kali, sebagai alternatif ‘pampers’ sekali pakai yang tidak ramah lingkungan.

Juga ada yang menawarkan berbagai tas menawan yang dibuat dari bekas pasta gigi. Sebuah produk reuse yang lahir dari kreativitas yang tinggi.

Selain itu, juga banyak produk-produk komersil tapi lekat dengan semangat cinta lingkungan. Primata Bumi misal,nya, sebuah wadah bisnis yang digagas beberapa mahasiswa UI, menjual aneka produk seperti tas, pin, kaos atau mug dengan pesan-pesan konservasi di dalamnya.

“Ini bisnis, tapi kami berharap bisa juga menjadi ajang penyelamatan berbagai primata di negeri ini yang terancam punah,” ujar Mayang, salah seorang penggagasnya.

Niat Baik

Shanty mengaku tak mudah mengumpulkan berbagai komunitas tersebut. Butuh persiapan serius beberapa bulan sebelumnya. “Namun kami merasa diringankan oleh semangat kebaikan komunitas-komunitas ini. Niat baik yang menyatukan kami, sebetulnya,” ujar dia.

“KumKum ini sebenarnya bukan organisasi yang sifatnya formal dan mengikat. Jadi ya, kita berawal dari ngobrol-ngobrol, kumpul-kumpul, suka ikutan acara-acara, akhirnya tercetus “Yuk, kita kumpul sama-sama. Kita usung semangat gotong royong,” tambah Shanty.

Anggaran yang terbatas, itu pasti. Tetapi, lanjut Shanty, justru itu lah yang melahirkan kreativitas. “Untuk mengadakan sesuatu itu bukan tergantung pada dananya, tapi apa yang ingin kita capai. Walikota Brazil bilang, yang dibutuhkan kreativitas.

Creativity comes out when you cut one zero from your budget.” Jadi kalau misalnya budget 100 juta, kita harus buat budget 10 juta. Dengan begitu kreativitas kita akan keluar, jadi kita bisa fokus. Misalnya masalah tempat, ya sudah, kita cari tempat yang nggak ada biayanya. Alhamdulillah dapat di Museum Bank Mandiri. Tak satu pun sponsor membiayai acara ini.”

Karena niat tulus juga, keterlibatan berbagai pihak, termasuk para pembicara dalam berbagai diskusi, tak memerlukan bayaran. “Semangat kami sama, semangat relawan. Kalau berbuat baik harus selalu perlu uang, kita tak akan bisa melangkah,” tegas Bayu.

“Kalau pun kemudian kami menjual beberapa produk, itu untuk membiayai operasional, misalnya untuk beli air minum galon untuk panitia dan pengunjung.”

Berbeda dengan acara komunitas pada umumnya, KumKum nampaknya bukan sekedar ajang kumpul-kumpul, dan jug abukan semata ruang tampil untuk tiap komunitas. Seperti yang ditandaskan dalam blog resminya,”KumKum merupakan sebuah upaya untuk merekatkan hubungan antar komunitas lintas ‘genre’. Di sini tiap komunitas bisa saling berbagi ide, pemikiran, dan inisiatif untuk kemudian masing-masing dapat ‘berbuat’ hal nyata guna menciptakan sebuah perubahan.

“Perubahan tentunya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba dari langit. Perubahan adalah sesuatu yang harus diupayakan. Dan perubahan hanya dapat tercipta jika upaya yang dilakukan secara berjamaah. Untuk itu, maka kolaborasi antar komunitas menjadi hal mutlak, guna terciptanya modal sosial yang kuat untuk sebuah perubahan yang berarti,” tandas Shanty.

Kolaborasi itulah yang diharapkan pengunjung. “Saya melihat di sini mereka bisa sinergi. Contohnya komunitas astronomi, mereka menerangkan bagaimana alam semesta itu. Kalau mereka bisa saling bekerjasama dengan komunitas astronomi, bisa menerbitkan komik astronomi yang materinya disesuaikan dengan anak-anak. Saya pikir ini bagus sekali, karena kan bangsa kita (lekat dengan) budaya gotong royong ya, ini harus dihidupkan kembali. Individualis yang selama ini berkembang pada masyarakat kita bisa berubah menjadi kegotongroyongan,” ujar Nani.

Ada Komunitas Wiken tanpa ke Mall (WTM) yang menawarkan alternatif jalan-jalan di akhir pekan bersama keluarga dan sahabat. Acara yang ditawarkan tidak hanya mengunjungi tempat-tempat wisata namun juga mengajak peserta untuk melakukan sesuatu yang bersifat kreatif & meningkatkan kepedulian akan lingkungannya.

Kesadaran kolektif dari kumpul-kumpul komunitas itu menjadi contoh nyata, bahwa pilihan untuk berbuat kebajikan atau justru memilih ketidakpedulian, pada akhirnya terpulang pada diri kita.

Kolaborasi Efektif tanpa Pesan Sponsor

liputan KumKum No Comments »

Oleh: Imam Isnaini

Terasa ada suasana lain saat memasuki gerbang Museum Bank Mandiri tempat diadakannya acara KumKum, kumpul-kumpul komunitas. Perbedaan yang paling menyolok adalah tidak adanya banner, spanduk, baliho, maupun poster sebuah produk layaknya acara-acara lain di Jakarta. Ajang berbagi beragam komunitas ini memang tak mengandalkan dana dari sponsor.

Melalui acara KumKum ingin dibuktikan bahwa dana bukanlah kendala utama untuk menyelenggarakan acara yang baik. Pesan-pesan sponsor juga bukan syarat mutlak untuk hadir menghiasi space-space dalam acara.

Dan terbukti, tanpa dana dari sponsor KumKum bisa terselenggara dengan sangat baik. Kunci sukses penyelenggaraan KumKum adalah peran aktif dari masing-masing komunitas untuk mewujudkan cita-cita bersama. Setiap komunitas bersedia berpartisipasi dan berkontribusi sesuai dengan bidang dan keahliannya masing-masing.

Dengan kolaborasi semacam ini ternyata kegiatan bisa sangat efektif, dana-dana yang tak penting dan tak berhubungan langsung dengan penyelenggaraan acara dikurangi, bahkan dipangkas habis. Tak heran jika dalam acara KumKum tak terlihat kaus panitia atau atribut-atribut lainnya. Meski demikian, pengunjung tak perlu kawatir dan tak perlu takut tersesat di acara KumKum. Sukarelawan dari kawan-kawan Pramuka siap membantu, memberi informasi bagi yang membutuhkan.

Kreativitas muncul ketika budget dipangkas

Salah satu ide yang mendasari konsep penyelenggaraan KumKum berawal dari kutipan yang pernah disampaikan oleh Jaime Lerner mantan Walikota Curitiba, ”creativity starts when you cut a zero from your budget. If you cut two, much better”. Kreativitas justru muncul ketika kita memangkas satu atau dua digit dana tersebut.

Curitiba adalah sebuah kota di sebelah tenggara Brasil. Curtiba sangat terkenal dengan penataan kota yang apik dan ramah bagi masyarakat penghuninya. Pada 1970-an, Curitiba terkenal dengan kota langganan banjir dan macet. Curitiba juga terancam dengan masalah ledakan penduduk. Namun, berkat revolusi tata kota, Curitiba Master Plan, yang dicetuskan oleh Jaime Lerner, ibu kota negara bagian Parana ini terbebas dari masalah-masalah itu. Bahkan, sekarang Curitiba dijuluki dengan sebutan “Ecological Capital of Brazil” dan “The Most Innovative City in The World”.

Cerita sukses Curitiba berawal saat Jaime Lerner berhasil menduduki jabatan Walikota. Lerner menjadi Walikota Curitiba selama tiga perionde (1971-1975, 1979-1984, dan 1989 - 1992). Penataan kota yang ditawarkan Lerner sangat cerdas dan efektif.

Untuk membebaskan Curitiba dari masalah banjir, Lerner tak menerapkan pembangunan sistem tanggul seperti kota-kota besar di Amerika Serikat. Ia menilai pembangunan sistem tanggul semacam itu menghabiskan dana terlalu mahal. Padahal Curitiba masih tergolong kota yang sedang berkembang, tak banyak dana untuk pembangunan infrastruktur. Lerner menggunakan cara yang tak lazim.

Dataran-dataran banjir dibeli oleh pemerintah kemudian diubah menjadi taman-taman kota. Selain menjadi daerah resapan dan paru-paru kota, taman tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berrekreasi. Kini, Curitiba menjadi kota dengan area taman perkapita terluas di dunia.

Perawatan rumput-rumput taman pun cukup unik dan tak memerlukan biaya yang besar. Lerner menyebar domba-domba di seluruh areal taman. Setiap hari, domba-domba itu digembalakan ke areal taman yang berumput panjang sehingga pertumbuhan rumput dapat dijaga ketinggiannya. Cara ini memangkas biaya pembelian mesin pemotong rumput dan bahan bakarnya.

Tak hanya itu, domba-domba tersebut juga menghasilkan bulu. Pada musin-musim tertentu, bulu-bulu domba itu dicukur dan dijual. Dana hasil penjualan bulu domba digunakan untuk membiayai program pemerintah yang lain, misalnya menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu.

Contoh keberhasilan Lerner yang lain adalah program kebersihan di kantong-kantong padat penduduk. Daerah-daerah tersebut tak terjangkau layanan pembuangan sampah karena akses jalannya terlalu sempit.

Lerner tak kurang akal, ia mengajak masyarakat setempat untuk berpartisipasi aktif menjaga kebersihan lingkungannya. Caranya, masyarakat diminta untuk membawa sampahnya masing-masing ke tempat yang telah disediakan. Untuk menarik minat masyarakat, Lerner memberi insentif berupa pemberian sembako atau tiket bus untuk setiap kantung sampah yang dibuang.

Curitiba juga mempunyai teluk yang penuh dengan sampah. Tentu, selain tak sedap dipandang mata, juga menjadi sumber bau yang sangat tak enak. Lerner menginginkan teluk tersebut bersih, tapi untuk mendatangkan mesin dan tenaga pembersih biayanya sangat mahal.
Lerner berpikir untuk mengajak nelayan setempat turut membantu melaksanakan programnya itu. Para nelayan diajak mengumpulkan sampah di teluk itu dan dibayar berdasarkan berat sampah yang berhasil dikumpulkan.

Dengan program ini Lerner memperoleh dua manfaat, selain teluknya bersih dari sampah, Lerner juga meningkatkan taraf hidup para nelayan setempat. Nelayan-nelayan mendapat penghasilan meski bukan musimnya menangkap ikan.

Masalah kemacetan juga demikian. Lerner memunyai prinsip bahwa kota dibangun bukan untuk mobil, melainkan untuk kehidupan masyarakatnya. Karena itu, Lerner giat mengembangkan moda transportasi umum dan sangat membatasi kendaraan pribadi.

Sejak periode pertama masa jabatan sebagai Walikota, Lerner yang lulusan Sekolah Arsitektur Universitas Federal Parana itu menerapkan sistem Bus Rapit Transit. Sistem ini mirip dengan Trans Jakarta namun lebih terintegrasi dengan moda transportasi umum lainnya. Pada awalnya banyak ahli yang menyarankan Lerner untuk membangun sistem kereta api bawah tanah, namun ia tetap memilih bus karena biaya pembangunannya yang relatif lebih murah.

Penerapan sistem Bus Rapit Trasit mendorong perubahan pada tatanan sosial, ekologi, dan perilaku masyarakat Curitiba. Pengguna kendaraan pribadi seperti mobil sangat dibatasi.

Bermodal Partisipasi

Apa yang dilakukan Jaime Lerner di Curitiba menginspirasi para penyelenggara KumKum.

Ada sekitar 55 komunitas bergabung pada acara KumKum yang pertama, 17 dan 18 April 2010. Tak hanya komunitas peduli lingkungan yang berpartisipasi, ada komunitas hobi, kelompok diskusi, pecinta laut, pecinta komik, pelestari kesenian dan budaya, bahkan ada komunitas pecinta ular.

Para komunitas peserta KumKum memahami betul tujuan penyelenggaraan acara tersebut. Mereka tak mengandalkan atribut-atribut berlebihan dengan biaya yang mahal, melainkan fokus pada kegiatan menyebarluaskan kegiatan komunitas.

Kutipan Jaime Lerner diatas memang ampuh, justru karena minimnya dana, acara KumKum menjadi sangat kreatif. Komunitas-komunitas sangat atraktif menunjukkan kebolehannya.

Komunitas HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta) misalnya, mengajak pengunjung melihat bentuk matahari. Salah satu pengunjung pun dibuat takjub karena bisa melihat matahari dalam wajah aslinya. Tentu sukarelawan dari langitselatan membantunya dengan memasang filter sinar matahari sehingga mata pengunjung tidak mengalami kerusakan.

Lain lagi dengan komunitas langitselatan. Di depan stannya dibentangkan ular tangga raksasa lengkap dengan dadu untuk memainkannya. Ular tangga tersebut berisi pengenalan benda-benda luar angkasa. Cara ini sangat efektif menarik pengunjung, terutama anak-anak. Para sukarelawan pun membantu memberi penjelasan mengenai arti dari gambar benda luar angkasa tersebut.

Dari sisi pengunjung, tercatat lebih dari 5 ribu orang hadir selama dua hari penyelenggaraan KumKum. Hampir semua pengunjung merasakan nuansa berbeda ketika masuk di area KumKum.

Melinda misalnya, saat masuk gerbang Museum Mandiri ia disambut oleh beberapa sukarelawan yang mengenakan rompi dari PVC bekas bertuliskan JIRO WES. Awalnya ia bingung dan bertanya-tanya, apa maksud dari tulisan tersebut. Setelah berkeliling agak lama, baru dia ketahui bahwa tulisan tersebut adalah lafal dari ZERO WASTE, semangat yang digelorakan di acara KumKum.

Selain memberi ajang bagi komunitas-komunitas untuk berbagi ide kepada masyarakat, KumKum juga melakukan gerakan tanpa sampah dan pengelolaan sampah yang baik.

Jauh-jauh hari sebelum penyelenggaraan, penyelenggara KumKum sudah woro-woro kepada calon pengunjung untuk membawa tas sendiri karena stan-stan makanan dan souvenir di KumKum tak menyediakan kantong plastik. Tempat minum pun harus bawa sendiri dari rumah untuk mengurangi sampah dari botol plastik bekas minuman.

Di beberapa lokasi disediakan pula tempat sampah yang sudah terbagi menjadi beberapa bagian untuk sampah kering, sampah organik dan sampah yang bisa didaur ulang.

Penyadaran ini pun berhasil. Area KumKum bersih, tak ada sampah yang terlihat berserakan. Sampah yang dibuang ke TPA pun relatif sedikit. Setelah dilakukan pemilihan dan pemilahan, hanya 10 kantong sampah yang tak terpakai dan harus dibuang.

Memang, konsep acara KumKum dibuat dengan mengintegrasikan kegiatan-kegiatan komunitas untuk melakukan pendidikan kepada masyarakat. Budaya bersih, tanpa sampah dan bebas polusi sangat ditonjolkan.

Pengunjung dihimbau untuk datang dengan naik kendaraan umum, atau membatasi kendaraan pribadi dengan datang beramai-ramai. Informasi kendaraan umum yang bisa dipakai difasilitasi oleh komunitas KRL Mania bagi pengunjung yang berencana naik kereta api.

Bagi pengunjung yang ingin nebeng, pergi beramai-ramai ke acara KumKum bisa mencari tebengan melalui situs nebeng di www.nebeng.com.

Komunitas Bike 2 Work juga menyediakan parkir khusus bagi pengunjung yang bersepeda.

Berbagai komunitas menyambut baik atas terselenggaranya KumKum. Mereka berharap KumKum tak berhenti sampai suksesnya acara, tapi bisa menjadi wadah bagi beragam komunitas untuk berbagi dan berkegiatan bersama secara berkelanjutan.

Beberapa komunitas meneruskannya dengan menyelenggarakan kegiatan pasca-KumKum. Tentu kegiatan pasca KumKum disesuaikan dengan bidang yang digeluti komunitas masing-masing.

Kum-Kum, Menularkan Sikap Hargai Lingkungan

liputan KumKum 1 Comment »

Oleh: Eleonora Bergita

Saat banyak program acara sibuk dengan urusan acara saja, KumKum menawarkan kesadaran untuk berpikir tentang tindakan sehari-hari agar sampah yang kita hasilkan seminim mungkin. Bagaimana bisa?

Memasuki kawasan Museum Mandiri yang terletak tepat di jantung kawasan Kota Tua, siang di hari Minggu, 17 April 2010 itu membuat saya terhenyak beberapa saat.

Banyak orang, baik pengunjung maupun panitia dan pemilik stan berlalu lalang, namun sejak dari pintu gerbang, hampir tak ada sampah saya lihat. Apa sih yang mereka buat sehingga museum ini nampak bersih meski berbagai komunitas tengah punya acara besar selama akhir pekan -dua hari- berturut-turut?

Komitmen Bersama

Acara yang mulai heboh rencananya sejak beberapa bulan belakangan ini nampaknya cukup berhasil dari segi kampanye lingkungan hidup dengan melakukan tindakan nyata.

Di seputar pintu masuk dan selasar depan museum terdapat beberapa tempat sampah besar dari karton tebal yang diletakkan berdampingan. Ada tiga pilahan sampah di tempat tersebut: kertas, botol/gelas plastik, dan tisu, plastik dan lainnya. Sampah di dalamnya di beberapa sudut museum saya lihat berisi sampah persis seperti pilahan yang disediakan, namun ada juga beberapa tempat sampah yang isinya tercampur.

Tak mudah memang mengajarkan orang untuk disiplin mengelola sampahnya. Beberapa pengunjung nampak tak ingin menghabiskan waktu terlalu lama untuk berpikir sampah yang dibawanya masuk ke tempat yang mana, namun pengunjung lain dengan sabar melakukannya. Paling tidak proses berpikir untuk menentukan pilahan sampah membuat kita semua belajar untuk mempertimbangkan setiap tindakan kita sekecil apapun.

Seorang pengunjung, Rina, mengungkapkan kekagumannya akan kebersihan lokasi acara KumKum. Ibu tiga putra yang datang dari Jatibening, Bekasi, khusus untuk mengajarkan lingkungan hidup pada buah hatinya ini merasa baru sekali ini datang ke suatu acara yang minim sampah. Ia juga senang dengan banyaknya tempat sampah terpilah di banyak sudut, seperti yang dilakukannya di rumah. Ia juga mengacungkan jempol pada pengunjung yang mau berusaha membuang sampah sesuai pilahannya.

Sekelompok pengunjung yang terdiri dari para gadis kecil berusia 7-11 tahun: Shiva, Pipit, Rina, Deasy dan Vina yang tinggal di wilayah Jembatan Lima, Sawahlio, Jakarta Barat, senang berada di Museum Mandiri hari minggu itu. Apalagi selain banyak benda kreatif yang menarik bisa dilihat di seputar museum, juga karena tempatnya bersih, hampir tidak ada sampah terlihat.

Ah, tapi siapa bilang museum ini benar-benar bersih saat acara. Ternyata sepertinya ada yang terlupakan oleh panitia: tempat sampah di toilet! Sehingga pemandangan tisu yang bertebaran di sana-sini membuat toilet tak sedap dipandang mata.

Sampah Juga Perlu Dikelola!

Selebihnya, kesadaran pengunjung dan fasilitas yang diberikan panitia untuk urusan kebersihan terbilang cukup oke. Beberapa pengunjung nampak membawa sendiri tempat minum dan kotak makanan, sehingga tak perlu ada sampah yang dibuang saat makan.

Di lokasi tempat penjualan makanan, orang akan dilayani penjual makanan dengan menyediakan piring atau gelas kaca atau melamin atau dengan menggunakan daun pisang, sehingga sampah yang dihasilkan di lokasi ini pun tak banyak, meski di tempat cuci piring yang disediakan hampir tak pernah kosong.

Para petugas Zero Waste yang mengenakan rompi bertuliskan Jiro Wes dari bahan bekas spanduk atau backdrop acara nampak berjaga-jaga dengan penuh kesiapan di dekat tempat sampah pilahan di sekitar lokasi taman dimana banyak makanan dijual.

Yang menarik, bahkan lokasi yang rawan sampah seperti di taman ini pun bersih dari sampah. Tim Zero Waste yang berjumlah sekitar 20-an orang di siang hari itu nampak dengan sabar memberikan informasi tentang sampah pilahan yang akan dibuang.

Nia, seorang anggota tim Zero Waste yang adalah mahasiswi Universitas Indonesia sangat senang bisa memberikan kontribusi di acara KumKum tersebut. Apalagi baginya, memberi penyadaran pada pengunjung tentang sampah pilahan mempunyai arti tersendiri bagi gadis yang senang bila ada pengunjung yang bertanya padanya. Bila pengunjung bertanya, berarti ia memiliki kesadaran bahwa sampah harus dipilah, begitu katanya.

Lain lagi dengan Michelle yang bertugas selama dua hari berturut-turut, di tanggal 17 dan 18 April 2010. Ia merasa tugasnya di hari ke-2 sudah lebih ringan, karena para pengunjung nampak lebih sadar untuk membuang sampah pada tempatnya, meski perlu informasi lebih lanjut tentang kemana membuang sampah sesuai informasi pilahan yang diberikan.

Mahasiswi yang aktif di kelompok lingkungan hidup London School Public Relation ini merasa senang ikut membantu sebuah acara yang memperhatikan soal perilaku menjaga lingkungan hidup sehari-hari secara langsung.

Keberadaan tim Zero Waste ini memang adalah hal baru dilakukan di sebuah acara publik di Jakarta khususnya. Menurut Erwin Yunanto, pihak panitia menyadari bahwa ada beberapa orang yang tidak peduli sama sekali soal pemilahan sampah dan pasti ada juga yang bingung kemana hendak membuang sampah sesuai pilahan, maka ada petugas Zero Waste yang bertugas menjelaskan.

Hasil dari pemilahan sampah tersebut akan dijual ke pengepul sampah kering. Sedangkan sisa makanan, ada yang masih bisa dibuat kompos, namun sisa makanan bersantan misalnya masuk dalam kategori sampah non daur ulang.

Selain itu, sampah kering (sake) atau barang bekas (babe) yang dibawa oleh para pengunjung dikumpulkan di stan di depan museum untuk dikelola.

Seorang anggota komunitas, Rudyanto dari nebeng.com menyarankan ada tempat pilahan sampah khusus untuk flyers. Jadi, kalau ada pengunjung tak ingin membawa flyer pulang, bisa diletakkan di tempat sampah tersebut untuk didaur ulang, katanya. Ide yang menarik!

Dengan semua program yang disediakan, panitia KumKum mengajak peserta untuk lebih peduli pada lingkungan minimal dalam hal memilah sampah yang mereka buang.

KumKum, Ajang Berbagi & Berbuat

liputan KumKum No Comments »

oleh: Esthi Nimita Tejawati

Sebuah acara yang digagas dari kepedulian bersama untuk kepentingan bersama, sebagai wadah untuk berbagi dan berbuat bagi para penggiat komunitas, serta cikal bakal terbentuknya jaringan yang lebih kuat dan lebih luas.

Siapa yang menyangka kumpulan bapak-bapak muda pemilik warung internet memiliki keinginan mulia untuk membuat sistem yang dapat menyaring materi di internet dari bahaya pornografi, yang mudah diakses bagi siapa saja. Siapa juga yang menyangka jika seorang musisi bersama beberapa seniman yang juga menggandeng para dokter ahli THT mensosialisasikan Masyarakat Bebas Bising, untuk mengurangi polusi suara di Indonesia?

Atau sekelompok anak muda memiliki kepedulian untuk menyelenggarakan liburan akhir Minggu bagi siapa saja untuk sejenak memalingkan muka dari mal di Wiken Tanpa Ke Mal? Lain lagi dengan Komunitas Ciliwung Hulu Hilir, sekelompok orang muda yang mau-maunya terjun langsung, mengupayakan penggalangan kepedulian warga Jakarta dan Bogor terhadap fusaknya fungsi ekologis dan social Sungai Ciliwung.

Tapi itulah kenyataannya pada komunitas-komunitas yang ada dan berkumpul di KumKum, sebuah acara kumpul-kumpul komunitas. Para penggiat komunitas ini memiliki kepedulian untuk melakukan sesuatu bagi kebaikan bersama.

Mereka tidak ingin muluk-muluk mengubah keadaan di Indonesia ke arah yang lebih baik dengan kegiatan yang besar berskala nasional, namun paling tidak mereka melakukan suatu bentuk kepedulian sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Mulai dari diri sendiri, lalu menularkannya pada lingkungan sedikit demi sedikit sambil mengajak orang-orang yang memiliki kepedulian, kebutuhan, maupun keahlian yang sama untuk bergabung. Ada juga komunitas yang berawal dari hobi, lalu berkembang menjadi suatu komunitas yang mengarah pada kegiatan sosialisasi atau menularkan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dari masyarakat yang lebih luas.

Konsistensi para komunitas ini dalam melalukan sesuatu sudah sangat teruji, buktinya ada yang bertahan selama 7 tahun dalam membina komunitasnya. Ada juga komunitas yang memang baru sebentar namun memiliki program serta visi dan misi yang sangat jelas, sehingga komunitas tersebut berhasil berkembang pesat dalam waktu singkat.

Komunitas lain berhasil menggandeng para ahli yang memiliki kepedulian yang sama sehingga mempermudah sosialisasi melalui keilmuan mereka, namun ada juga yang menyediakan diri sebagai jembatan untuk memenuhi kebutuhan komunitas lain, atau mengajak beberapa komunitas bekerja sama demi menciptakan suatu gerakan yang lebih besar.

Kumkum 2010 yang diselenggarakan di Museum Bank Mandiri pada tanggal 17 – 18 April lalu merupakan media yang tepat untuk mengakomodasi kebutuhan komunitas-komunitas untuk saling bertemu, berbagi pengalaman, berbagi ilmu, memperluas jaringan dan saling belajar demi kebaikan bersama.

Seperti yang diakui Rudyanto dari Nebeng.com yang mengaku memiliki agenda untuk bekerja sama dengan satu komunitas yang ingin dikenalnya lebih dalam demi membina kegiatan yang lebih luas dan bermanfaat.

“Sayangnya keterbatasan waktu dan jumlah orang yang menjaga stand komunitas kami menyebabkan saya tidak memiliki keleluasaan untuk berkenalan dan membina hubungan dengan teman-teman dari komunitas lain,” ucapnya sambil menyarankan agar di acara Kumkum mendatang kebutuhan para anggota komunitas untuk bertemu dan berbagi pengalaman lebih terfasilitasi.

Hal ini diamini oleh Opi dari komunitas Kalam Tegal Gundil, sebuah komunitas yang peduli dan aktif membina masyarakat di daerah Tegal Gundil, Bogor Utara. Ia berharap memiliki kesempatan yang lebih leluasa untuk berinteraksi dengan komunitas serupa yang memiliki mimpi sama untuk saling berbagi ilmu. Karena masalah yang kurang lebih serupa, Opi hanya sempat melakukan sosialisasi dan saling berkenalan, namun belum sempat berbagi cerita dan membangun jaringan. Opi berharap di kesempatan yang akan datang ia sudah semakin mengenal komunitas-komunitas yang ada dan dapat menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas lain di Kumkum.

Namun baik Opi maupun Rudyanto menilai acara ini sangat positif, bahkan mengharapkan adanya acara serupa yang dilakukan secara berkala.

Chikita dari komunitas Lantan Bentala, komunitas yang saat di Kumkum khusus mengajak para pengunjung standnya untuk menandatangani surat perjanjian untuk mau bersama-sama mengurangi sampah plastik, merasa sangat puas dengan acara ini.

Walaupun belum ada kerjasama yang terwujud, namun Chikita bersyukur sudah berhasil mengantongi banyak kontak baru, baik dari lembaga pendidikan, wartawan, maupun sesama komunitas yang dapat dijadikan modal jika kelak mereka akan melakukan suatu kegiatan di masa mendatang. “Bahkan ada sebuah lembaga pendidikan yang mau membuat pekan lingkungan di kampusnya akan mengundang kita,” ucap Chikita.

Kebaikan memang harus berani digulirkan. Kumkum kali ini mungkin hanya dapat menampung sekitar 55 komunitas. Namun paling tidak ide membuat suatu komunitas untuk melakukan sesuatu dengan orang-orang yang memiliki kepedulian bersama sudah mulai digaungkan.

Banyak orang yang tersentak mendengar kisah para penggiat komunitas. Karena semua dimulai dari hal-hal yang sederhana, dari diri sendiri dan orang-orang di sekelilingnya. Bisa dimulai dari hobi, passion, kepedulian, kebutuhan atau apa pun itu namanya. Namun kebaikan itu mulai digulirkan semakin jauh.

Semakin banyak pengunjung yang mengisi benak mereka dengan berbagai kemungkinan, “Kalau mereka bisa aku juga pasti bisa!” Sehingga diharapkan cikal bakal yang dimulai di Kumkum akan membentuk jaringan yang semakin kuat dan melahirkan berbagai komunitas yang bentuknya semakin beragam di Kumkum yang akan datang. Selamat!

Pemenang Kompetisi Blog KumKum

Informasi, kompetisi blog 5 Comments »

Setelah proses seleksi bertahap, maka Juri menetapkan tulisan berikut sebagai pemenang kompetisi blog & facebook KumKum.

Juara 1: Hanya sekedar catatan - Anil, Jus & Sedotan - Hadi Samsul
Juara 2: Sahabat Bumi - Nyuci Piring Yuuk - Ardanti Andiarti
Juara 3: Blog Asepsaiba - Hadiah Kecil untuk Bumi - Asep Saiba

Tulisan Asep Saiba di atas sekaligus juga terpilih paling banyak oleh pembaca sebagai tulisan yang idenya paling inspiratif dan paling ingin diterapkan.

Anugerah khusus diberikan kepada Ismail Agung pemilik blog U n g ‘ s yang tercatat sebagai pengirim tulisan terbanyak sebagai peserta yang paling konsisten berbagi.

Selamat kepada para pemenang terpilih dan terima kasih kepada seluruh peserta yang sudah berbagi ide lewat Kompetisi Blog KumKum ini :-)

Semoga selalu semangat untuk berbagi dan menerapkan gaya hidup ramah lingkungan serta menjadi inspirasi bagi semua untuk berbuat!

10 Finalis Kompetisi Blog KumKum

Informasi, kompetisi blog 8 Comments »

Setelah proses seleksi tingkat awal, maka keluarlah 10 tulisan sebagai finalis kompetisi blog & facebook KumKum.

Untuk menentukan pemenang favorit, silakan pilih salah satu dari 10 tulisan di bawah ini. Pilihlah tulisan yang idenya paling inspiratif dan paling ingin kamu terapkan.

Sila simak 10 tulisan di bawah ini:

Polling

Polling 12 Comments »

Apa sih uniknya KumKum?

Informasi, tentang KumKum 8 Comments »

Sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh satu-dua komunitas adalah hal yang biasa. Sebuah rangkaian kegiatan yang diselenggarakan oleh beberapa komunitas yang sejenis juga hal yang lumrah. Sebuah acara kampanye lingkungan yang diusung oleh beberapa komunitas berlabel ‘hijau’ pun merupakan hal yang sangat biasa.

Lalu apa bedanya KumKum dengan acara-acara komunitas lainnya? selanjutnya…

TIPS bawa SAKE atau BABE ke KumKum

Tips Sake 13 Comments »

Sebagai upaya untuk mengatasi masalah sampah, para pengunjung KumKum dihimbau untuk membawa SAKE (sampah kering) atau BABE (barang bekas) ke acara KumKum. Tapi bagi yang naik kendaraan umum,  bawa SAKE/ BABE secukupnya saja.

Supaya gak bingung, di bawah ini adalah jenis SAKE & BABE yang bisa dibawa:

A. SAKE (sampah kering):

  • Sampah kertas (Koran, majalah, kertas hvs, brosur, poster, brosur, karton, kardus, amplop, kuitansi, dll)
  • Sampah plastik (botol atau gelas air kemasan, botol aki, botol bekas minyak goreng, tutup air gallon 19 liter, plastik PP/PE/HD)
  • Sampah Tetra Pak (kardus bekas minuman kotak atau santan)
  • Sampah kaleng (bekas minuman, biskuit, sarden/kornet, cat, oli, dll)
  • Besi bekas

JANGAN BAWA: sampah kantong kresek & styrofoam, karena tidak bisa diberikan ke pengepul sampah.

B. BABE (barang bekas yang punya nilai jual):

Barang apa pun yang masih bagus dan bisa digunakan, seperti perlengkapan sekolah, buku bacaan, pakaian (baju, tas, sepatu), asesoris perempuan, mainan yang masih berfungsi, alat elektronik, CD/VCD/DVD, dsb.

JANGAN BAWA: pakaian dalam atau barang yang sudah rusak/ cabik.

Akan dikemanakan SAKE & BABE ini?

- SAKE: Akan dijual ke pengepul sampah PT. Anugerah Wisesa. Dananya digunakan untuk kebutuhan penyelenggaraan KumKum, karena acara ini tidak menerima dana sponsor.

- BABE: Akan diberikan ke Yasmin, sebuah yayasan yang melakukan penjualan barang bekas untuk program pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.

CATATAN: Mohon SAKE atau BABE dikumpulkan dalam keadaan rapi/ bersih.  Serta dikumpulkan sesuai jenisnya (misal: sampah koran dikumpul dengan koran saja, tidak digabung dengan botol-botol plastik/ kaleng).




WordPress Theme & Icons by N.Design Studio. Theme pack from WPMUDEV by Incsub.
Entries RSS Comments RSS Masuk log