Oleh: Edi Santoso & Purwanti pada Majalah Tarbawi Edisi 20 Mei 2010
Bertumbuhnya komunitas mengajarkan satu pelajaran, bahwa begitu banyak ruang untuk berbuat kebajikan. Dalam bentuk apa pun: penyaluran hobi, gerakan penyadaran, atau pun aktivitas pembelajaran.
Nina Damly (60) menyengajakan diri datang ke kompleks Kota Tua, Jakarta, Sabtu (17/4). Bersama ratusan pengunjung lainnya, pensiunan ini mengaku antusias melihat jejak kebajikan anak-anak muda yang tergabung dalam berbagai komunitas. “Saya salut dengan anak muda sekarang yang mulai sadar memelihara lingkungan,” ujar warga Pondok Bambu, Jakarta ini.
Begitulah, dua hari, Sabtu (17/4) dan Minggu (18/4), banyak warga, terutama orang-orang dari kawasan Jabotabek, yang tiba-tiba menyambangi Museum Bank Mandiri di Kompleks Kota Tua, Jakarta.
Tak ada penanda yang jelas bahwa sedang berlangsung sebuah acara. Tapi lalu lalang orang, keluar masuk gedung, nyaris tak berhenti.
Tak ada panitia berseragam. Hanya beberapa orang yang menunggu di depan pintu masuk di belakang meja tanpa taplak, mempersilakan pengunjung untuk mengisi buku tamu - yang lebih kelihatan sebagai beberapa lembar kertas bekas.
“Apa ini acara ‘KumKum’ Mas?” tanya salah seorang pengunjung. memang, segala hiruk pikuk di dalam gedung tua itu bertajuk ‘KumKum’.
“KumKum di sini bukanlah nama tokoh kartun Jepang yang jika tersenyum lebar, mulutnya pun melebar hingga ke pipinya,” ujar Shanty Syahril, humas kegiatan ini, bercanda. Tetapi maksudnya, ‘Kumpul yuk Kumpul…’ Karena kita mengajak berbagai komunitas dan juga warga masyarakat untuk berkumpul di sini.
“Ini acara pertama kita bisa mengumpulkan sekian banyak komunitas dalam sebuah acara,” jelas Shanty. Setidaknya ada 52 komunitas yang turut meramaikan acara ini, mulai dari komunitas hobi, lingkungan, hingga komunitas pembelajaran.
“Di sini ada komunitas blogger, literasi, hobi, astronomi, pencari dana, peduli anak & peduli lingkungan,”tambah pegiat Komunitas Peta Hijau ini.
Jadilah acara ini semacam ajang bagi komunitas untuk memperkenalkan dirinya pada masyarakat. Karena, di antara sekian banyaknya komunitas yang tumbuh berserak, tak semua memiliki ruang publikasi yang memadai. Jadilah mereka orang-orang yang beraktivitas dalam sunyi.
“Padahal publikasi itu perlu. Komunitas akan semakin eksis ketika mendapatkan apresiasi masyarakat. Karena itu pula lah kami mencoba mempertemukan komunitas dengan media massa dalam acara ini,”ujar Bayu Wardhana, panitia lainnya menambahkan.
Cara komunikasi komunitas-komunitas dalam ‘KumKum’ pun unik. Sebagiannya bernilai edukasi, seperti yang dilakukan oleh Komunitas langitselatan. Komunitas pecinta dunia astronomi ini menggelar papan permainan ular tangga raksasa yang bergambar tata surya.
Para pengunjung, terutama anak-anak, dipersilakan untuk bermain di dalamnya.”Ini untuk mengenalkan anak-anak seputar tata surya dengan cara yang menyenangkan,” tandas salah seorang pegiat komunitas ini.
Komunitas Pecinta Kertas lebih memperkenalkan aktivitasnya melalui sebuah workshop. Kertas bagi komunitas ini lebih dari sekedar media menulis dan menggambar, tetapi merupakan media luhur yang membentuk peradaban dari masa ke masa.
Untuk menghargainya, gunakanlah kertas sebaik-baiknya. Karena kertas bisa dipakai kembali jika memungkinkan (reuse), dibatasi penggunaannya, sehingga mengurangi jumlah pemakaian (reduce), dan bisa diolah kembali dalam wujud yang berbeda (recycle).
Sementara itu, Masyarakat Bebas Bising (MBB) - sebuah komunitas yang konsen pada polusi suara, menyapa pengunjung dengan sebuah warning: “Waspadalah! Telinga Anda mengalami penurunan fungsi secara signifikan dari hari demi hari.” Mereka pun menyediakan seperangkat alat untuk mengets, seberapa peka telinga kita. Komunitas ini mencoba meyakinkan bahwa berbagai aktivitas masyarakat modern, sadar atau tidak, telah mengurangi kepekaan telinga kita.
Semangat kepedulian
Mengunjungi KumKum, layaknya melihat kebajikan yang berserak. Berbagai komunitas itu, dengan beragam keunikannya, mencoba mengisi celah-celah kebajikan yang memang dibutuhkan masyarakat.
“Di sini, diajarkan bagaimana mengurusi sampah, sehingga sampah dibeda-bedain. Kertas koran itu jug abisa dibuat untuk sesuatu yang berharga. Saya lihat ada juga komunitas tentang bagaimana menghindari situs-situs porno. Saya pikir mereka saling memberi sesuatu kepada masyarakat umum yang belum diketahui banyak orang. Ini adalah pengetahuan baru yang sangat berharga,” komentar Nani.
“Saya sangat salut dengan aktivitas komunitas di sini. Saya pikir dengan kegiatan ini akan membuka mata banyak orang akan keberadaan komunitas di sini. Mereka berkumpul, bekerja sama dan saling memotivasi untuk tujuan yang lebih baik pastinya,” tandas Doddy Kurnia, pengunjung lainnya.
Lihatlah bagaimana mereka membangun kesadaran pada hal-hal yang mungkin kita sering abaikan. Seperti yang dilakukan Komunitas Pecinta Buah Langka. Pada meja stand-nya, dijajar berbagai buah yang mulai jarang kita lihat, apalagi oleh remaja atau anak-anak.
“Saya saja nggak begitu tahu. Yang saya tahu ada menteng, jambu, mete, gohok. Banyak yang tanya sama saya, bahkan anak-anak saya belum pernah lihat buah itu. Saya juga heran kenapa tidak ada lagi buah-buahan itu. Orang sekarang beli apel terus. Buah-buahan impor terus yang dicari, tapi hasil panen lokal dilupakan,” kata Nani.
Panitia sendiri nampaknya ingin menjadikan adcara ini sebagai manifestasi berbagi slogan kepedulian yang digelorakan berbagai komunitas tersebut. Semangat ‘go green’ misalnya, terasa kuat sejak kita memasuki tempat berlangsungnya acara.
Berbagai tempat sampah-untuk sampah kering dan basah, tersedia di berbagai sudut ruangan. Beragam keterangan yang memandu pengunjung, seperti petunjuk lokasi ruang, toilet atau mushola, semuanya menggunakan kertas bekas. “Kita harus memberikan contoh nyata pada pengunjung bagaimana me-reuse kertas bekas,” jelas Shanty.
Panitia menyediakan air minum gratis, tapi jangan berharap ada gelas-gelas plastik. Begitu pun kala kita hendak membeli makanan di lokasi itu. Tak ada plastik atau kertas untuk membungkus makanan. Semua harus makan di tempat. Bahkan, di atas meja makan ada semacam petunjuk, bagaimana kita menikmati santapan makanan atau minum tanoa menambah beban bagi lingkungan. Di antaranya,”Jangan menggunakan sedotan plastik ketika meminum jus!”
“Jadi tidak hanya jargonnya saja yang green, tapi memang benar-benar dilaksanakan. Bagaimana pemilahan sampahnya, makanya di sini dipisah antara sampah yang basah & kering. Supaya nggak macet, kita rekomendasikan naik angkutan umum. Kalau bingung naik busway, ada komunitas ‘Suara Transjakarta’, mau naik KRL, ada komunitas ‘KRL Mania’, mau naik sepeda ada Bike to Work. Kalau mau naik sepeda, kita sediakan parkirannya,” papar Shanty.
Ruang pameran pun nampak senada. Berbagai barang yang dijual membawa semangat kepedulian. Misalnya, ada penjual popok bayi yang bisa dipakai berkali-kali, sebagai alternatif ‘pampers’ sekali pakai yang tidak ramah lingkungan.
Juga ada yang menawarkan berbagai tas menawan yang dibuat dari bekas pasta gigi. Sebuah produk reuse yang lahir dari kreativitas yang tinggi.
Selain itu, juga banyak produk-produk komersil tapi lekat dengan semangat cinta lingkungan. Primata Bumi misal,nya, sebuah wadah bisnis yang digagas beberapa mahasiswa UI, menjual aneka produk seperti tas, pin, kaos atau mug dengan pesan-pesan konservasi di dalamnya.
“Ini bisnis, tapi kami berharap bisa juga menjadi ajang penyelamatan berbagai primata di negeri ini yang terancam punah,” ujar Mayang, salah seorang penggagasnya.
Niat Baik
Shanty mengaku tak mudah mengumpulkan berbagai komunitas tersebut. Butuh persiapan serius beberapa bulan sebelumnya. “Namun kami merasa diringankan oleh semangat kebaikan komunitas-komunitas ini. Niat baik yang menyatukan kami, sebetulnya,” ujar dia.
“KumKum ini sebenarnya bukan organisasi yang sifatnya formal dan mengikat. Jadi ya, kita berawal dari ngobrol-ngobrol, kumpul-kumpul, suka ikutan acara-acara, akhirnya tercetus “Yuk, kita kumpul sama-sama. Kita usung semangat gotong royong,” tambah Shanty.
Anggaran yang terbatas, itu pasti. Tetapi, lanjut Shanty, justru itu lah yang melahirkan kreativitas. “Untuk mengadakan sesuatu itu bukan tergantung pada dananya, tapi apa yang ingin kita capai. Walikota Brazil bilang, yang dibutuhkan kreativitas.
“Creativity comes out when you cut one zero from your budget.” Jadi kalau misalnya budget 100 juta, kita harus buat budget 10 juta. Dengan begitu kreativitas kita akan keluar, jadi kita bisa fokus. Misalnya masalah tempat, ya sudah, kita cari tempat yang nggak ada biayanya. Alhamdulillah dapat di Museum Bank Mandiri. Tak satu pun sponsor membiayai acara ini.”
Karena niat tulus juga, keterlibatan berbagai pihak, termasuk para pembicara dalam berbagai diskusi, tak memerlukan bayaran. “Semangat kami sama, semangat relawan. Kalau berbuat baik harus selalu perlu uang, kita tak akan bisa melangkah,” tegas Bayu.
“Kalau pun kemudian kami menjual beberapa produk, itu untuk membiayai operasional, misalnya untuk beli air minum galon untuk panitia dan pengunjung.”
Berbeda dengan acara komunitas pada umumnya, KumKum nampaknya bukan sekedar ajang kumpul-kumpul, dan jug abukan semata ruang tampil untuk tiap komunitas. Seperti yang ditandaskan dalam blog resminya,”KumKum merupakan sebuah upaya untuk merekatkan hubungan antar komunitas lintas ‘genre’. Di sini tiap komunitas bisa saling berbagi ide, pemikiran, dan inisiatif untuk kemudian masing-masing dapat ‘berbuat’ hal nyata guna menciptakan sebuah perubahan.
“Perubahan tentunya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba dari langit. Perubahan adalah sesuatu yang harus diupayakan. Dan perubahan hanya dapat tercipta jika upaya yang dilakukan secara berjamaah. Untuk itu, maka kolaborasi antar komunitas menjadi hal mutlak, guna terciptanya modal sosial yang kuat untuk sebuah perubahan yang berarti,” tandas Shanty.
Kolaborasi itulah yang diharapkan pengunjung. “Saya melihat di sini mereka bisa sinergi. Contohnya komunitas astronomi, mereka menerangkan bagaimana alam semesta itu. Kalau mereka bisa saling bekerjasama dengan komunitas astronomi, bisa menerbitkan komik astronomi yang materinya disesuaikan dengan anak-anak. Saya pikir ini bagus sekali, karena kan bangsa kita (lekat dengan) budaya gotong royong ya, ini harus dihidupkan kembali. Individualis yang selama ini berkembang pada masyarakat kita bisa berubah menjadi kegotongroyongan,” ujar Nani.
Ada Komunitas Wiken tanpa ke Mall (WTM) yang menawarkan alternatif jalan-jalan di akhir pekan bersama keluarga dan sahabat. Acara yang ditawarkan tidak hanya mengunjungi tempat-tempat wisata namun juga mengajak peserta untuk melakukan sesuatu yang bersifat kreatif & meningkatkan kepedulian akan lingkungannya.
Kesadaran kolektif dari kumpul-kumpul komunitas itu menjadi contoh nyata, bahwa pilihan untuk berbuat kebajikan atau justru memilih ketidakpedulian, pada akhirnya terpulang pada diri kita.
Berbagi